Jurnalis : Aisha Khalisa
Radar Waktu, Indramayu – Program Studi Pendidikan IPS di STKIP Al Amin Indramayu terus berinovasi dalam membekali mahasiswanya dengan keterampilan abad ke-21 yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan dan industri. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah penyelenggaraan pelatihan intensif mengenai Penginderaan Jauh (Remote Sensing) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dilaksanakan pada tanggal 17 hingga 18 Januari 2026.
Kegiatan ini dirancang secara khusus untuk menjembatani kesenjangan antara teori keruangan yang dipelajari di bangku kuliah dengan aplikasi teknologi pemetaan digital yang berkembang pesat. Sebagai bagian dari agenda rutin prodi yang telah berjalan konsisten sejak tahun 2021, pelatihan ini menjadi bukti nyata komitmen lembaga dalam meningkatkan standar kompetensi lulusannya di bidang geospasial.
Keberhasilan pelatihan ini tidak terlepas dari kehadiran para narasumber yang memiliki rekam jejak mumpuni di bidangnya. Materi utama disampaikan oleh Dr. Sodikin, S.Pd, M.Si, M.P.W.K., seorang akademisi dari Program Magister Studi Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Terbuka.
Beliau membedah filosofi dan urgensi analisis geospasial dalam memahami fenomena lingkungan dan sosial secara terintegrasi. Untuk memberikan perspektif yang lebih teknis dan aplikatif, pelatihan ini juga menghadirkan Muhammad Ihsan Syahidan, S.Pd., seorang praktisi dari PT Geo Alam Teknika Indonesia yang juga merupakan mahasiswa pascasarjana penginderaan jauh di Universitas Gadjah Mada (UGM). Kombinasi antara pakar akademik dan praktisi industri ini memberikan wawasan yang sangat luas bagi mahasiswa, mulai dari konsep dasar hingga tren penggunaan teknologi satelit di dunia kerja nyata.
Struktur materi pelatihan disusun secara sistematis selama dua hari untuk memastikan penyerapan ilmu yang maksimal. Pada hari pertama, kurikulum difokuskan pada penginderaan jauh, di mana mahasiswa belajar bagaimana mengunduh, mengolah, dan menginterpretasi citra satelit untuk mengidentifikasi penggunaan lahan maupun perubahan lingkungan di permukaan bumi. Memasuki hari kedua, fokus beralih pada implementasi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk manajemen data spasial dan pembuatan peta tematik yang informatif.
Tidak hanya terpaku pada layar komputer, mahasiswa juga diajak terjun langsung melakukan praktik pengukuran lapangan menggunakan Waterpass. Keterampilan mengukur beda tinggi tanah secara terestrial ini sangat penting sebagai validasi data (ground checking), sehingga mahasiswa memahami bahwa data digital harus selaras dengan kondisi nyata di lapangan.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Program Studi Pendidikan IPS, Asep Andri Astriyandi, M.Pd., memberikan penekanan bahwa literasi geospasial kini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan sebuah kebutuhan pokok bagi calon guru IPS.
Beliau menjelaskan bahwa dengan menguasai SIG dan penginderaan jauh, para mahasiswa akan memiliki nilai tawar yang tinggi saat memasuki dunia kerja. Saat mereka menjadi guru nanti, mereka diharapkan mampu menyajikan materi geografi dengan cara yang lebih visual, interaktif, dan berbasis data, sehingga proses belajar mengajar di sekolah menjadi lebih menarik bagi generasi milenial dan Gen Z yang akrab dengan teknologi digital.
Antusiasme yang ditunjukkan oleh peserta sangat luar biasa sehingga suasana pelatihan terasa sangat dinamis dengan banyaknya diskusi interaktif mengenai pemecahan masalah (troubleshooting) dalam pengolahan data peta.
Melalui kegiatan ini, STKIP Al Amin Indramayu berharap dapat terus melahirkan sarjana pendidikan yang tidak hanya mahir dalam berteori di depan kelas, tetapi juga kompeten dalam mengoperasikan teknologi mutakhir yang mendukung pemahaman mendalam tentang dinamika keruangan di bumi kita.


Komentar