Jurnalis : Aisha Khalisa
Kerajaan bercorak Buddha terbesar di Indonesia adalah Kerajaan Mataram Kuno, yang berdiri pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Pusat kerajaan ini terletak di Jawa Tengah dan menjadi salah satu pusat peradaban agama Buddha yang sangat penting di Nusantara. Sejarah Kerajaan Mataram Kuno tidak hanya menunjukkan kekuasaan politik dan militer, tetapi juga kemajuan dalam seni, arsitektur, dan keagamaan. Salah satu bukti paling mencolok dari kejayaan ini adalah Candi Borobudur, yang merupakan candi Budha terbesar di dunia dan dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.
Candi Borobudur tidak hanya menjadi simbol keagungan budaya Indonesia, tetapi juga menjadi bukti bahwa agama Buddha pernah mendominasi wilayah ini selama beberapa abad. Meskipun seiring waktu, pengaruh Hindu mulai tumbuh dan akhirnya menggantikan dominasi Buddha, warisan budaya dari masa itu masih terlihat jelas dalam bentuk bangunan-bangunan kuno, relief-relief yang indah, dan kitab-kitab suci yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Keberadaan Kerajaan Mataram Kuno juga memberikan wawasan tentang sistem pemerintahan, hubungan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, serta perkembangan seni dan teknologi pada masa itu.
Selain Candi Borobudur, banyak situs-situs lain yang menunjukkan keberadaan kerajaan ini, seperti Candi Mendut dan Candi Pawon. Ketiga candi ini sering disebut sebagai “Trinity of Buddhist Temples” karena letaknya yang saling berdekatan dan memiliki makna spiritual yang sama. Dengan adanya situs-situs ini, kita dapat memahami bagaimana masyarakat Jawa Kuno membangun peradaban yang sangat maju dan harmonis antara agama, seni, dan kehidupan sehari-hari. Kerajaan Mataram Kuno tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Indonesia, tetapi juga menjadi saksi bisu dari perjalanan agama Buddha di Nusantara.
Asal Usul Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno didirikan oleh Raja Sanjaya pada abad ke-8 Masehi. Menurut Prasasti Kalasan yang ditemukan di Yogyakarta, Raja Sanjaya adalah seorang penganut agama Buddha yang membangun kuil untuk memuliakan Dewi Tara. Hal ini menunjukkan bahwa agama Buddha telah memiliki pengaruh yang cukup besar di wilayah Jawa sejak awal berdirinya kerajaan ini. Namun, seiring waktu, kerajaan ini juga mengalami perubahan dalam kepercayaan religius, terutama setelah raja-raja berikutnya mulai mengadopsi ajaran Hindu.
Meski begitu, pengaruh Buddha tetap terasa dalam struktur kerajaan dan kebudayaan. Banyak raja Mataram Kuno yang memiliki nama-nama yang berakar dari bahasa Sanskerta, seperti Rakai Pikrama, Dyah Giri, dan Rakai Panangkaran. Nama-nama ini menunjukkan hubungan erat antara kerajaan dengan budaya India, terutama dalam hal istilah kerajaan dan pemerintahan. Selain itu, prasasti-prasasti yang ditemukan di sekitar Candi Borobudur juga menyebutkan bahwa kerajaan ini memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dengan baik, termasuk pembagian wilayah, sistem pajak, dan hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia Tenggara.
Pada masa pemerintahan Raja Samaratungga, kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya. Ia dikenal sebagai tokoh yang memperluas wilayah kekuasaan Mataram Kuno dan memperkuat hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain, seperti Sriwijaya dan kerajaan di Tiongkok. Prasasti Mantyasih yang ditemukan di Yogyakarta menyebutkan bahwa Raja Samaratungga adalah seorang penganut agama Buddha yang membangun Candi Borobudur sebagai tempat ibadah utama. Dengan demikian, Candi Borobudur tidak hanya menjadi simbol keagungan agama Buddha, tetapi juga menjadi bukti kekuasaan dan pengaruh kerajaan Mataram Kuno di kawasan Asia Tenggara.
Arsitektur dan Seni Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah salah satu contoh terbaik dari arsitektur Budha di Indonesia. Dibangun dengan menggunakan batu andesit yang dipotong secara presisi, candi ini memiliki tiga tingkat utama: Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Tingkat pertama, Kamadhatu, menggambarkan dunia nafsu dan kesedihan. Tingkat kedua, Rupadhatu, melambangkan dunia yang lebih tinggi, sedangkan tingkat ketiga, Arupadhatu, merupakan simbol kesadaran tertinggi dan kebebasan dari segala ikatan.
Relief-relief yang terdapat di Candi Borobudur sangat indah dan penuh makna. Mereka menggambarkan kisah-kisah kehidupan Siddhartha Gautama sebelum ia menjadi Buddha, serta ajaran-ajaran dasar agama Buddha. Selain itu, terdapat 267 stupa kecil yang tersebar di seluruh candi, yang merupakan simbol dari kebijaksanaan dan kesadaran. Candi Borobudur juga memiliki tangga yang mengelilingi candi, yang memungkinkan para peziarah untuk melakukan ritual perputaran (pilgrimage) sesuai dengan ajaran agama Buddha.
Dalam hal seni, Candi Borobudur menunjukkan keahlian tinggi dari para seniman dan arsitek pada masa itu. Relief-relief yang ada tidak hanya indah, tetapi juga sangat detail dan penuh makna. Mereka menunjukkan kehidupan masyarakat Jawa Kuno, termasuk aktivitas sehari-hari, upacara keagamaan, dan kehidupan sosial. Dengan adanya relief-relief ini, kita dapat memahami bagaimana masyarakat Jawa Kuno hidup dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Pengaruh Agama Buddha di Nusantara
Agama Buddha tidak hanya berpengaruh di Jawa, tetapi juga menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara. Kerajaan Mataram Kuno menjadi salah satu pusat penyebaran agama ini, terutama melalui perdagangan dan hubungan diplomatik dengan negara-negara lain. Para pedagang dan pendeta dari India dan Tiongkok sering berkunjung ke Jawa untuk berdagang atau menyebarkan ajaran agama.
Selain itu, banyak kitab-kitab suci yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno, yang menjadi sumber informasi tentang kepercayaan dan praktik keagamaan pada masa itu. Kitab-kitab ini juga menjadi dasar bagi pengembangan sastra dan filosofi di Indonesia. Dengan adanya pengaruh Buddha, seni dan budaya Nusantara mengalami perkembangan yang pesat, terutama dalam bidang seni patung, lukisan, dan arsitektur.
Namun, seiring waktu, pengaruh agama Hindu mulai tumbuh dan akhirnya menggantikan dominasi agama Buddha. Perubahan ini terjadi terutama setelah kerajaan Mataram Kuno mulai berpindah ke daerah-daerah yang lebih dekat dengan laut, seperti Pulau Jawa bagian barat. Meskipun demikian, warisan budaya dari masa agama Buddha masih terlihat jelas dalam bentuk candi-candi, relief-relief, dan kitab-kitab suci yang ada hingga saat ini.
Konservasi dan Pengelolaan Situs Budaya
Saat ini, Candi Borobudur dan situs-situs lain yang terkait dengan Kerajaan Mataram Kuno dilindungi oleh pemerintah Indonesia sebagai situs warisan budaya. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kelestarian bangunan dan relief-relief yang ada, termasuk restorasi dan pemeliharaan rutin. Selain itu, pemerintah juga mempromosikan wisata budaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan sejarah.
Pengelolaan situs budaya ini juga melibatkan berbagai lembaga dan organisasi internasional, seperti UNESCO, yang memberikan dukungan teknis dan finansial untuk menjaga keberlanjutan situs tersebut. Dengan adanya kerja sama ini, Candi Borobudur dan situs-situs lain tetap menjadi saksi bisu dari peradaban yang sangat maju pada masa lalu.
Selain itu, berbagai penelitian dan studi dilakukan untuk memahami lebih dalam tentang sejarah dan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Para ilmuwan dan arkeolog terus melakukan ekskavasi dan analisis untuk mengungkap lebih banyak informasi tentang kehidupan masyarakat Jawa Kuno. Dengan adanya penelitian ini, kita dapat memahami lebih jauh tentang peran Kerajaan Mataram Kuno dalam sejarah Indonesia dan dampaknya terhadap perkembangan budaya dan agama di Nusantara.


Komentar