werrerwwew
Beranda » Blog » Harmoni Hijau: Memaknai Hari Musik Nasional dari Perspektif Ekologis

Harmoni Hijau: Memaknai Hari Musik Nasional dari Perspektif Ekologis

Editor : Adzkiya Naila

Penulis : Dr. Sodikin, S.Pd, M.Si., M.P.W.K. (Dosen Magister Studi Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Terbuka, Anggota Asosiasi Pendidik Seni Indonesia).

Radar Waktu, Opini – Peringatan Hari Musik Nasional setiap tanggal 9 Maret, yang bertepatan dengan hari lahir sang maestro W.R. Supratman, sering kali kita maknai sebagai perayaan kreativitas manusia semata.

Namun, bagi kita yang bergelut di bidang lingkungan, musik memiliki dimensi yang jauh lebih dalam dan eksistensial. Musik bukan sekadar deretan nada dalam partitur, namun musik adalah jembatan yang menghubungkan getaran alam dengan frekuensi jiwa manusia.

Sebagaimana sebuah ekosistem yang membutuhkan keseimbangan presisi untuk tetap lestari, musik mengajarkan kita tentang harmoni, resonansi, dan pentingnya mendengarkan setiap entitas yang ada di sekitar kita, baik yang bersuara maupun yang sunyi.

Dalam perspektif lingkungan, musik tradisional nusantara adalah bukti otentik dari hubungan simbiotik antara manusia dengan alam. Instrumen yang terbuat dari bambu, kayu, hingga kulit hewan bukan sekadar alat penghasil nada, melainkan personifikasi dari kekayaan hayati (biodiversitas) yang kita miliki.

Pengembangan SDI Berkualitas di Bank Mitra Syariah guna Menunjang Kinerja Karyawan

Getaran angklung atau petikan dawai tradisional adalah suara dari hutan dan tanah tempat material tersebut tumbuh. Oleh karena itu, merawat musik tradisional adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya konservasi lingkungan.

Ketika sebuah ekosistem rusak akibat eksploitasi, kita tidak hanya kehilangan keanekaragaman hayati, tetapi juga kehilangan sumber inspirasi dan material fisik yang membentuk identitas musikal bangsa. Jika hutan hilang, maka hilang juga “suara” yang selama ini membentuk karakter budaya kita.

Memasuki era digital tahun 2026, tantangan industri musik dan kelestarian budaya kita menjadi semakin kompleks. Di tengah arus konten instan dan algoritma yang serba cepat, masyarakat sering kali terjebak dalam konsumsi permukaan, abai terhadap proses kreatif yang mendalam dan makna filosofis di baliknya.

Kita melihat adanya kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan pendidikan karakter, kesadaran lingkungan, dan apresiasi seni. Musik memiliki kekuatan unik untuk menjadi media kampanye lingkungan yang paling efektif.

Ia mampu menyentuh relung emosional manusia, sisi sensitif yang sering kali sulit dijangkau hanya dengan paparan data statistik yang kaku. Nada memiliki daya magis untuk mengubah kesadaran menjadi perilaku nyata menuju keberlanjutan (sustainability).

Lebih jauh lagi, Hari Musik Nasional harus menjadi momentum reflektif untuk memperkuat ekosistem kreatif yang tidak hanya sehat secara industri, tetapi juga “hijau” secara paradigma. Kita perlu memberikan ruang seluas-luasnya dan dukungan konkret bagi para musisi yang berani menyuarakan isu-isu kemanusiaan dan krisis iklim.

Hal ini juga harus dibarengi dengan perlindungan hak cipta yang adil, agar para penjaga harmoni ini dapat terus berkarya dengan bermartabat.

Sebagai penutup, harmoni dalam musik adalah cerminan dari harmoni yang kita dambakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika kita mampu menghargai setiap perbedaan nada dalam satu komposisi musik yang indah, seharusnya kita juga memiliki kearifan yang sama untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam ciptaan-Nya. Menjaga musik adalah menjaga alam; memuliakan nada adalah memuliakan kehidupan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *