Beranda » Blog » Kata Tidak Baku yang Sering Digunakan dalam Bahasa Indonesia

Kata Tidak Baku yang Sering Digunakan dalam Bahasa Indonesia

Jurnalis : Aisha Khalisa



Bahasa Indonesia memiliki banyak variasi dalam penggunaannya, baik itu dalam bentuk formal maupun informal. Salah satu aspek yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari adalah penggunaan kata-kata tidak baku. Kata tidak baku merujuk pada istilah-istilah yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa resmi atau ejaan yang telah ditetapkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB). Meskipun demikian, kata-kata ini sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan masyarakat awam atau dalam komunikasi santai. Penggunaan kata tidak baku ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pengaruh dari bahasa daerah, pengaruh luar negeri, atau kesalahan pemahaman terhadap aturan tata bahasa. Namun, meskipun tidak baku, kata-kata ini sering kali menjadi bagian dari identitas budaya dan cara berkomunikasi masyarakat.

Kata-kata tidak baku dapat ditemukan dalam berbagai konteks, mulai dari percakapan biasa hingga media massa. Contohnya, frasa seperti “nggak” untuk menggantikan “tidak”, “dulu” untuk menggantikan “sebelumnya”, atau “kayak” yang merupakan singkatan dari “seperti”. Meskipun dalam tata bahasa resmi, frasa-frasa ini tidak dianggap benar, namun mereka tetap digunakan karena lebih praktis dan cepat dalam komunikasi. Selain itu, kata-kata tidak baku juga sering muncul dalam bentuk kata serapan dari bahasa asing yang tidak sepenuhnya disesuaikan dengan struktur bahasa Indonesia. Misalnya, “ngeteh” yang merupakan gabungan antara kata “nget” dan “teh” dari bahasa Jawa, atau “ngecek” yang merupakan bentuk sederhana dari “mengecek”.

Penggunaan kata-kata tidak baku tidak selalu bersifat negatif. Dalam beberapa situasi, kata-kata ini justru memberikan nuansa yang lebih santai dan dekat dengan pembicara. Namun, penting untuk memahami bahwa dalam konteks formal atau akademis, penggunaan kata-kata ini dapat dianggap tidak sopan atau tidak profesional. Oleh karena itu, penutur bahasa Indonesia perlu mengetahui kapan dan bagaimana menggunakan kata-kata tersebut agar tidak menyebabkan kesalahpahaman atau kurangnya kesopanan. Dengan demikian, pemahaman tentang kata-kata tidak baku sangat penting dalam memperkaya kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Jenis-Jenis Kata Tidak Baku dalam Bahasa Indonesia

Kata tidak baku dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan sumber dan cara penggunaannya. Pertama, ada kata-kata yang berasal dari bahasa daerah. Contohnya, dalam bahasa Jawa, kata “mang” sering digunakan sebagai ganti dari “dia” atau “dia itu”. Dalam bahasa Sunda, “meunang” sering digunakan sebagai ganti dari “mendapatkan”. Penggunaan kata-kata ini biasanya terjadi dalam lingkungan yang dekat dengan masyarakat setempat, dan sering kali tidak disadari bahwa kata tersebut tidak baku dalam tata bahasa resmi.

Kedua, ada kata-kata yang merupakan hasil dari pengaruh bahasa asing. Contohnya, kata “bener” yang sering digunakan sebagai ganti dari “benar” dalam percakapan sehari-hari. Meskipun kata “bener” sudah cukup umum digunakan, secara tata bahasa resmi, “benar” adalah bentuk yang lebih tepat. Selain itu, ada juga kata-kata seperti “tapi” yang sering dikatakan “tp” dalam percakapan informal. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kata-kata tidak baku juga dipengaruhi oleh kebiasaan menulis atau berbicara yang lebih singkat.

Dari Kampus Ke Pengadilan: Pengalaman Praktik Hukum Mahasiswa Fh UMM Dalam Program Coe

Ketiga, ada kata-kata yang merupakan hasil dari kesalahan ejaan atau pengucapan. Contohnya, kata “gimana” yang sering digunakan sebagai ganti dari “bagaimana”. Meskipun dalam beberapa kasus, “gimana” sudah diterima sebagai bentuk yang lebih santai, namun secara tata bahasa resmi, “bagaimana” adalah bentuk yang benar. Selain itu, ada juga kata-kata seperti “nggak” yang merupakan penyederhanaan dari “tidak”. Meskipun kata ini digunakan secara luas, dalam konteks formal, sebaiknya menggunakan “tidak” agar lebih sopan dan profesional.

Keempat, ada juga kata-kata yang merupakan hasil dari penggunaan kata serapan yang tidak sepenuhnya disesuaikan. Contohnya, kata “ngeteh” yang merupakan gabungan antara “nget” dan “teh” dari bahasa Jawa. Meskipun kata ini sudah cukup populer dalam percakapan sehari-hari, dalam tata bahasa resmi, sebaiknya menggunakan “minum teh” sebagai bentuk yang lebih tepat. Selain itu, ada juga kata seperti “ngecek” yang merupakan bentuk sederhana dari “mengecek”. Meskipun kata ini sering digunakan, dalam konteks formal, sebaiknya menggunakan “memeriksa” atau “mengecek” agar lebih jelas dan tepat.

Dengan memahami jenis-jenis kata tidak baku ini, penutur bahasa Indonesia dapat lebih bijak dalam memilih kata yang sesuai dengan konteks dan situasi. Pemahaman ini juga membantu dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam situasi formal.

Dampak Penggunaan Kata Tidak Baku dalam Komunikasi

Penggunaan kata tidak baku dalam komunikasi memiliki dampak yang beragam, tergantung pada konteks dan audiens yang terlibat. Dalam lingkungan yang santai dan informal, kata-kata tidak baku sering kali dianggap lebih praktis dan mudah dipahami. Misalnya, dalam percakapan antar teman atau keluarga, penggunaan kata seperti “nggak” atau “kayak” dapat membuat komunikasi lebih cepat dan ringan. Namun, dalam situasi formal seperti presentasi bisnis, penulisan laporan akademis, atau komunikasi resmi, penggunaan kata-kata tidak baku dapat dianggap tidak profesional dan kurang sopan.

Selain itu, penggunaan kata-kata tidak baku juga dapat memengaruhi pemahaman pesan yang disampaikan. Terkadang, kata-kata yang tidak baku dapat menyebabkan kebingungan atau kesalahpahaman, terutama jika audiens tidak terbiasa dengan istilah tersebut. Misalnya, kata “bener” yang sering digunakan sebagai ganti dari “benar” dapat membuat orang yang tidak familiar dengan istilah ini merasa bingung. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa dalam komunikasi yang efektif, kejelasan dan kesopanan adalah hal yang sangat penting.

Stadium General DPM KBM Untirta : Mahasiswa Sebagai Agen Pengawal Demokrasi dan Dinamika Legislatif Nasional

Di sisi lain, penggunaan kata-kata tidak baku juga dapat mencerminkan identitas budaya dan keberagaman dalam bahasa Indonesia. Dalam beberapa wilayah, kata-kata tidak baku sering digunakan sebagai bagian dari identitas lokal. Misalnya, dalam bahasa Jawa, kata “mang” atau “ndeso” sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, meskipun dalam tata bahasa resmi, kata-kata ini tidak dianggap baku. Dengan demikian, penggunaan kata-kata tidak baku juga bisa menjadi bentuk ekspresi budaya dan cara berkomunikasi yang unik. Namun, penting untuk tetap menjaga keseimbangan antara kepraktisan dan kesopanan dalam penggunaan bahasa.

Bagaimana Menghindari Penggunaan Kata Tidak Baku?

Untuk menghindari penggunaan kata-kata tidak baku, penting bagi penutur bahasa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran akan kaidah tata bahasa resmi. Salah satu cara yang efektif adalah dengan mempelajari buku-buku panduan tata bahasa Indonesia, seperti “Ejaan yang Disempurnakan” yang dikeluarkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB). Buku-buku ini memberikan informasi lengkap tentang ejaan, tanda baca, dan struktur kalimat yang benar. Dengan memahami aturan-aturan ini, penutur bahasa Indonesia dapat lebih mudah mengenali dan menghindari penggunaan kata-kata tidak baku.

Selain itu, penggunaan media massa dan sumber belajar online juga dapat membantu dalam meningkatkan pemahaman tentang tata bahasa resmi. Banyak situs web dan aplikasi yang menyediakan panduan tata bahasa Indonesia, seperti kamus online, forum diskusi, atau platform pembelajaran bahasa. Dengan mengakses sumber-sumber ini, penutur bahasa Indonesia dapat memperluas pengetahuan mereka tentang penggunaan bahasa yang benar.

Selain itu, latihan menulis dan berbicara secara rutin juga dapat membantu dalam menghindari penggunaan kata-kata tidak baku. Dengan sering melakukan latihan, penutur bahasa Indonesia dapat lebih terbiasa dengan struktur kalimat yang benar dan menghindari kesalahan ejaan atau penggunaan kata yang tidak sesuai. Selain itu, mendengarkan dan membaca teks-teks resmi seperti surat kabar, buku pelajaran, atau artikel ilmiah juga dapat membantu dalam memperbaiki kemampuan berbahasa.

Seiring dengan perkembangan teknologi, penggunaan alat bantu seperti pemeriksa ejaan (spell checker) dan penerjemah otomatis juga dapat membantu dalam menghindari kesalahan penggunaan kata-kata tidak baku. Alat-alat ini dapat memberikan saran atau koreksi terhadap kalimat yang tidak sesuai dengan tata bahasa resmi. Namun, penting untuk tetap memahami dasar-dasar tata bahasa agar tidak terlalu bergantung pada alat bantu tersebut.

33 Judul Artikel yang Menarik dan Menginspirasi untuk Konten Berkualitas

Dengan kesadaran yang tinggi dan usaha yang konsisten, penggunaan kata-kata tidak baku dapat diminimalkan, sehingga komunikasi dalam bahasa Indonesia menjadi lebih jelas, sopan, dan profesional. Dengan demikian, penutur bahasa Indonesia dapat memperkaya kemampuan berkomunikasi mereka tanpa mengorbankan kualitas bahasa yang digunakan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *