Jurnalis : Aisha Khalisa
Radar Waktu, Casablanca, Maroko – Tokoh pemuda dan akademisi Indonesia, Beni Pramula, menyampaikan pidato kunci yang sangat kritis dalam gelaran Future Action Conference (FAC) 2026 yang berlangsung pada tanggal 1-4 Mei 2026 di Casablanca, Maroko. Mengusung tema utama “Global Action for a Sustainable and Peaceful Future,” forum ini dihadiri oleh ratusan delegasi dan pembuat kebijakan dari berbagai negara. Yang diselenggarakan oleh The Organisation for Global Peace and Sustainability (OGPS) is a UK-based.
Dalam pidatonya yang bertajuk “Beyond Leadership: Why the World Doesn’t Need More Leaders, But More Bridge-Builders,” Beni menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik global yang kian tidak terkendali.
Kritik Terhadap Konflik di Timur Tengah
Di tengah suasana forum yang dinamis, Beni secara khusus menyinggung kondisi panas di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat. Dengan nada tegas, ia mengecam segala bentuk agresi yang mengorbankan warga sipil.
“Kita menyaksikan hari ini bagaimana ego kekuasaan di Timur Tengah, mulai dari ketegangan Iran, Israel, hingga keterlibatan Amerika, telah memperlakukan nyawa manusia seolah hanya angka dalam statistik perang. Saya berdiri di sini untuk menyatakan penolakan keras terhadap segala bentuk agresi yang tidak manusiawi. Dunia bukanlah papan catur dingin tempat para penguasa menggerakkan bidak tanpa perasaan sementara rakyat jelata menanggung penderitaannya,” tegas Beni di hadapan para delegasi.
Ia mendesak masyarakat internasional untuk mengambil posisi yang imbang dan berani dalam menentang kekerasan. “Diplomasi harus kembali pada khitahnya sebagai alat perdamaian, bukan alat pembenaran bagi serangan bersenjata,” tambahnya.
Gagasan “Transformative Collaboration” & “5-Sila”
Sebagai solusi atas fragmentasi global tersebut, kandidat doktor administrasi publik Universitas Mumammadiyah Jakarta ini menawarkan konsep Transformative Collaboration (Kolaborasi Transformatif). Ia memperkenalkan kerangka kerja “The 5-Sila for SDGs” sebagai kompas moral universal yang meliputi:
• Solidaritas Internasional yang tak tergoyahkan.
• Kemanusiaan yang adil dan beradab.
• Persatuan global yang tidak terbagi.
• Hikmat kebijaksanaan melalui dialog deliberatif.
• Keadilan sosial lintas batas.
”Kita tidak butuh lebih banyak pemimpin yang hanya pandai memerintah perang. Kita butuh ‘Pembangun Jembatan’ (Bridge-Builders) yang berani turun ke tengah untuk menyatukan kembali potongan-potongan dunia yang retak,” ujar penulis buku “Not Leaders of the Future” tersebut.
Apresiasi Internasional
Kehadiran Beni Pramula di bumi Al-Maghribi kali ini mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang aktif menyuarakan perdamaian dunia. Seruannya untuk menghentikan “Cold Diplomacy” dan beralih ke kolaborasi berbasis kemanusiaan mendapat sambutan hangat serta dukungan dari berbagai organisasi pemuda internasional yang hadir di Maroko.
Tentang Beni Pramula
Beni Pramula adalah seorang akademisi, aktivis Muhammadiyah, dan penulis yang fokus pada isu-isu diplomasi pemuda, kepemimpinan, dan kebijakan publik. Ia dikenal melalui gagasan-gagasannya yang progresif mengenai peran strategis generasi muda dalam perdamaian dan keberlanjutan global. Ia merupakan Presiden Pemuda Asia-Afrika 2015-2020. Ketum DPP IMM 2014-2016.


Komentar