fwwwwwwww
Beranda » Blog » Jurnal Lokal, Dampak Global: Membela Ekosistem Publikasi Nasional

Jurnal Lokal, Dampak Global: Membela Ekosistem Publikasi Nasional

Oleh: Taufiq Iqbal, S.Kom., M.M, Peneliti dan Aktivis Sains Terbuka & Dosen STMIK Indonesia Banda Aceh.

Radar Waktu, Opini – Suatu hari saya membaca artikel di sebuah jurnal pengabdian masyarakat SINTA 5. Artikelnya sederhana: tentang bagaimana sekelompok mahasiswa KKN membantu petani rumput laut di sebuah pulau kecil di Sulawesi Tenggara mengemas produk mereka dengan lebih baik. Tidak ada teori baru. Tidak ada metodologi canggih. Hanya dokumentasi jujur tentang proses, hambatan, dan hasil.

Enam bulan kemudian, saya bertemu dengan seorang dosen dari Nusa Tenggara Timur. Dia bercerita bahwa dia dan mahasiswanya baru saja menjalankan program serupa untuk petani rumput laut di daerah mereka — dan berhasil, karena mereka belajar dari artikel yang saya baca itu.

Itulah saat saya menyadari: dampak sebuah publikasi tidak diukur dari berapa kali dia dikutip di jurnal Scopus. Dampak diukur dari berapa banyak orang yang kehidupannya berubah karena pengetahuan itu sampai ke tangan yang tepat.

Obsesi Kita dengan “Internasional”

Ada narasi dominan dalam dunia akademik Indonesia saat ini: bahwa publikasi di jurnal internasional — terutama yang terindeks Scopus atau Web of Science — adalah puncak pencapaian. Sementara publikasi di jurnal nasional dianggap sebagai batu loncatan sementara, sesuatu yang Anda lakukan sambil menunggu “naik kelas” ke jurnal yang “lebih baik.”

GP Ansor di Usia 92 Tahun : Antara Warisan Militansi dan Tantangan Relevansi Zaman

Narasi ini tidak sepenuhnya salah. Publikasi internasional memang penting untuk membangun reputasi global, menarik kolaborasi lintas negara, dan berkontribusi pada diskursus ilmiah universal.

Tetapi narasi ini menjadi berbahaya ketika ia membuat kita lupa pada satu hal: sebagian besar pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia adalah pengetahuan yang sangat kontekstual, sangat lokal, dan sangat spesifik — dan pengetahuan seperti itu tidak akan pernah menarik bagi jurnal internasional.

Pengetahuan Lokal Bukan Pengetahuan Kelas Dua

Bagaimana cara mengelola konflik lahan adat di Papua? Bagaimana strategi pendampingan UMKM di desa pesisir Aceh pasca-tsunami? Bagaimana metode pembelajaran literasi yang efektif untuk anak-anak di daerah terpencil Kalimantan?

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sangat penting bagi Indonesia — tetapi tidak akan pernah menarik bagi editor jurnal di Amerika atau Eropa, karena konteksnya terlalu spesifik dan tidak bisa digeneralisasi.

Apakah ini berarti pengetahuan tersebut tidak berharga? Tentu tidak.

Analisis Krisis Keuangan Global terhadap Sistem Keuangan Internasional

Apakah ini berarti pengetahuan tersebut tidak perlu dipublikasikan? Juga tidak.

Yang ini berarti adalah: kita membutuhkan sistem publikasi yang mengakui bahwa pengetahuan lokal adalah pengetahuan yang sah, berharga, dan perlu didokumentasikan dengan standar yang sama ketatnya dengan pengetahuan universal.

Dan itulah peran jurnal nasional.

Jurnal Nasional sebagai Infrastruktur Pengetahuan Lokal

Jurnal-jurnal seperti AJAD, JPMN, JPN Indonesia, PASAI, dan KJPKM Kawanad bukan sekadar “jurnal lokal” dalam pengertian yang merendahkan. Mereka adalah infrastruktur pengetahuan lokal — tempat di mana pengetahuan yang lahir dari konteks Indonesia, untuk audiens Indonesia, bisa didokumentasikan, disebarkan, dan direplikasi.

Mereka memiliki standar peer-review yang ketat. Mereka menggunakan DOI yang membuat setiap artikel bisa dikutip secara permanen. Mereka terindeks di database yang bisa diakses secara terbuka. Dan yang terpenting: mereka terbaca oleh orang-orang yang benar-benar membutuhkan pengetahuan tersebut — dosen di kampus daerah, mahasiswa yang sedang menyusun proposal KKN, praktisi LSM, bahkan kadang-kadang petugas pemerintah daerah.

Hari Bumi dan Cermin Retak di Dasar Sungai: Ikan Sapu-Sapu Adalah Pesan, Bukan Sekadar Lawan

Ini bukan dampak yang kecil. Ini adalah dampak yang nyata, terukur, dan langsung.

Indonesia sebagai Kontributor Terbesar DOAJ: Apa Artinya?

Fakta bahwa Indonesia kini menjadi negara kontributor terbesar jurnal open access di DOAJ (Directory of Open Access Journals) per Maret 2025 — dengan lebih dari 2.473 jurnal terindeks — adalah pencapaian yang luar biasa. Tetapi pencapaian ini sering kali tidak mendapat apresiasi yang layak, bahkan di dalam negeri sendiri.

Apa artinya angka ini?

Artinya, Indonesia telah membangun ekosistem publikasi ilmiah yang sangat besar, sangat beragam, dan sangat terbuka. Ada ribuan editor, reviewer, dan penulis yang bekerja keras — sering kali tanpa bayaran yang layak — untuk memastikan bahwa pengetahuan yang dihasilkan di Indonesia bisa diakses oleh siapapun, di manapun, tanpa paywall.

Ini adalah kontribusi Indonesia kepada gerakan sains terbuka global. Dan kita harus bangga dengan itu.

Tetapi kebanggaan itu harus diikuti dengan dukungan nyata: berhenti meremehkan jurnal nasional, berhenti mendiskriminasi publikasi berdasarkan level SINTA, dan mulai memperlakukan jurnal-jurnal ini sebagai aset nasional yang perlu diperkuat, bukan sebagai pilihan terakhir yang memalukan.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Jika Anda adalah peneliti atau dosen: pertimbangkan untuk mempublikasikan sebagian karya Anda di jurnal nasional, terutama yang relevan dengan konteks lokal. Jangan hanya mengejar Scopus. Keseimbangan itu penting.

Jika Anda adalah mahasiswa: jangan takut untuk mengirim artikel KKN Anda ke jurnal nasional. Anda tidak perlu menunggu menjadi “peneliti senior” untuk berkontribusi pada pengetahuan kolektif.

Jika Anda adalah pembuat kebijakan di perguruan tinggi atau lembaga riset: hentikan diskriminasi terhadap publikasi di jurnal SINTA 4–5. Akui bahwa keberagaman jenis publikasi adalah tanda ekosistem yang sehat, bukan tanda kelemahan.

Jika Anda adalah editor atau pengelola jurnal nasional: terus tingkatkan standar Anda, perbaiki sistem editorial, dan ajukan indeksasi DOAJ jika belum. Anda adalah tulang punggung ekosistem pengetahuan nasional.

Dampak Tidak Selalu Terukur dalam Sitasi

Saya ingin menutup dengan kembali ke cerita di awal: artikel sederhana tentang petani rumput laut yang mengubah program KKN di pulau lain.

Artikel itu mungkin tidak pernah dikutip di jurnal Scopus. Mungkin tidak pernah masuk dalam perhitungan h-index siapapun. Tetapi ia mengubah kehidupan puluhan keluarga petani di dua pulau yang berbeda.

Bukankah itu yang seharusnya menjadi tujuan akhir dari semua pengetahuan yang kita hasilkan?

Jurnal lokal, dampak global. Bukan dalam pengertian bahwa semua orang di dunia membacanya — tetapi dalam pengertian bahwa pengetahuan yang didokumentasikan dengan baik, di tempat yang tepat, bisa mengubah dunia dalam skala yang paling penting: satu komunitas, satu desa, satu keluarga pada satu waktu.

Penulis adalah Dosen, STMIK Indonesia Banda Aceh. Aktif dalam gerakan sains terbuka dan advokasi untuk keadilan epistemik dalam sistem publikasi ilmiah global.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *