WhatsApp Image 2026-09-19 at 00.14.23
Beranda » Blog » Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 Resmi Dibuka, Targetkan 10 Ribu Pengunjung dan Perputaran Ekonomi Rp10 Miliar

Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 Resmi Dibuka, Targetkan 10 Ribu Pengunjung dan Perputaran Ekonomi Rp10 Miliar

TABANAN, 29 Agustus 2026 – Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot kembali bergemuruh oleh suara kendang dan okokan pada Jumat, 28 Agustus 2026, menandai pembukaan resmi Tanah Lot Art and Food Festival VII. Festival yang berlangsung selama tiga hari, 28 hingga 30 Agustus 2026 ini, dibuka langsung oleh Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga.

Mengusung tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya” yang bermakna semangat menjaga kekuatan samudra demi keharmonisan alam semesta, festival tahun ini mengangkat dua ikon utama: “Sunset in Paradise” dan “Ulam Carik”, yang mempertegas identitas Tanah Lot sebagai perpaduan antara keindahan alam pesisir dan kekayaan agraris khas Tabanan.

Target Ambisius: Dua Kali Lipat Kunjungan Harian

Yang membedakan edisi 2026 adalah ambisi angkanya. Manajemen DTW Tanah Lot menargetkan kunjungan 9.000 hingga 10.000 wisatawan per hari selama festival, nyaris dua kali lipat dibanding kunjungan hari biasa. Lebih jauh, target perputaran ekonomi yang dicanangkan mencapai Rp10 miliar selama tiga hari pelaksanaan.

Target ini dinilai realistis karena festival berlangsung pada masa high season kunjungan wisatawan mancanegara di bulan Agustus.

Wakil Bupati Dirga dalam sambutannya menegaskan filosofi di balik festival ini, bahwa kemajuan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan semata.

Dukung SDGs, Siswa SMKN 2 Depok Integrasikan Pemodelan Arsitektur dan Struktur Berbasis BIM

“Kemajuan sektor wisata tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan semata, melainkan dari sejauh mana masyarakat lokal termasuk pelaku UMKM dan ekonomi kreatif benar-benar memperoleh manfaat ekonomi dari keramaian yang tercipta,” tegas Wabup Dirga.

Pernyataan ini menempatkan festival bukan sekadar tontonan seni budaya, melainkan instrumen pemerataan ekonomi berbasis pariwisata.

Bahan Baku Lokal Sebagai Poin Kunci

Salah satu komitmen penting dalam festival tahun ini adalah penggunaan bahan pangan yang bersumber dari produsen lokal yang tersebar di seluruh Kabupaten Tabanan. Ketika festival berskala besar memasok bahan bakunya dari petani dan produsen lokal, dampaknya menjalar jauh melampaui puluhan pelaku UMKM yang berjualan langsung di lokasi, tetapi juga menghidupkan rantai pasok petani, peternak, dan produsen pangan skala kecil di hulu.

Beberapa hidangan yang diangkat mencerminkan kekayaan pangan lokal berbasis hasil pertanian, seperti olahan kakul (keong sawah) bumbu suna cekuh, sayur gonda, hingga minuman tradisional seperti rujak tibah dan es biir berbahan kelapa muda tanpa alkohol.

Pada waktu-waktu tertentu selama festival, wisatawan bahkan dapat mencicipi kuliner tersebut secara gratis, sebagai strategi untuk memperkenalkan cita rasa lokal kepada pengunjung baru sekaligus mendorong pembelian di stand-stand UMKM.

Bupati Sanjaya Dorong Reforma Agraria Berbasis Data Presisi untuk Keadilan dan Kesejahteraan

Tantangan: Memastikan Distribusi Manfaat Merata

Di balik optimisme target Rp10 miliar, festival ini juga membawa pekerjaan rumah untuk memastikan distribusi manfaat yang merata. Perputaran ekonomi kawasan secara agregat mencakup UMKM, kuliner, transportasi, akomodasi, dan ekonomi kreatif secara bersamaan.

Oleh karena itu, penting bagi Pemkab Tabanan untuk mempertimbangkan mekanisme evaluasi pasca-festival yang transparan, berapa pendapatan riil yang diterima UMKM peserta, agar penyelenggaraan ke depan bisa dirancang dengan skema yang lebih berpihak, seperti subsidi sewa stand bagi UMKM mikro atau kuota khusus bagi pelaku usaha dari desa-desa tertinggal.

Bagi pelaku UMKM yang terlibat, momentum 10.000 pengunjung per hari adalah peluang langka untuk membangun basis data pelanggan, melakukan diferensiasi produk berbasis bahan lokal yang unik, dan menghindari duplikasi produk yang berlebihan.

Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 membuktikan bahwa Tabanan mampu merancang event budaya berskala besar dengan target ekonomi yang ambisius. Tantangan sesungguhnya kini bukan lagi soal menarik wisatawan sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan setiap rupiah dari target Rp10 miliar itu benar-benar mengalir sampai ke tangan pelaku usaha kecil yang menjadi wajah autentik budaya dan kuliner Tabanan.

Pemkab Tabanan Pastikan Penanganan Korban Kebakaran di Selemadeg Barat dan Kediri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *