Picture1
Beranda » Blog » Dukung SDGs, Siswa SMKN 2 Depok Integrasikan Pemodelan Arsitektur dan Struktur Berbasis BIM

Dukung SDGs, Siswa SMKN 2 Depok Integrasikan Pemodelan Arsitektur dan Struktur Berbasis BIM

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan kegiatan praktik kependidikan pada mata pelajaran Konsentrasi Keahlian bidang Konstruksi Bangunan Gedung di Jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) SMK Negeri 2 Depok, Kabupaten Sleman, DIY, pada semester ganjil tahun ini. Kegiatan tersebut ditujukan bagi siswa jurusan DPIB dengan memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja, khususnya dalam penggambaran bangunan gedung bertingkat pada bidang arsitektural dan struktural.

Pembelajaran yang diberikan memanfaatkan Building Information Modeling (BIM) melalui perangkat lunak Autodesk Revit. Pendekatan ini tidak hanya menekankan kemampuan siswa dalam membuat gambar bangunan secara digital, tetapi juga mengajarkan bagaimana berbagai elemen bangunan dapat dimodelkan secara terintegrasi. Dengan demikian, siswa tidak sekadar memahami bentuk bangunan, tetapi juga mulai mengenal proses perencanaan yang lebih sistematis dan sesuai dengan perkembangan teknologi di industri konstruksi.

Kegiatan pembelajaran tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Tiga tujuan yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa praktikan bekerja sama dengan guru pamong untuk mendampingi peserta didik melalui tutorial interaktif dan praktik mandiri. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengikuti penjelasan secara bertahap, kemudian menerapkannya secara langsung pada perangkat lunak. Materi yang dipelajari meliputi pemodelan komponen arsitektural, seperti dinding, penempatan bukaan, dan penyelesaian ruang. Selanjutnya, elemen tersebut diintegrasikan dengan komponen struktural pada bangunan bertingkat, antara lain pondasi, kolom, pelat lantai, balok, hingga penulangan.

Proses pembelajaran yang menggabungkan elemen arsitektur dan struktur tersebut membantu siswa memahami pentingnya ketelitian dalam sebuah model bangunan. Setiap komponen perlu ditempatkan dan disesuaikan secara tepat agar tidak menimbulkan persoalan ketika seluruh bagian bangunan digabungkan. Melalui praktik menggunakan Revit, siswa juga memperoleh pengalaman dalam mengenali hubungan antar elemen bangunan secara lebih jelas dibandingkan hanya mempelajari gambar secara terpisah.

Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 Resmi Dibuka, Targetkan 10 Ribu Pengunjung dan Perputaran Ekonomi Rp10 Miliar

Pembelajaran seperti ini juga memberi ruang bagi siswa untuk berlatih menyelesaikan pekerjaan secara bertahap, mulai dari memahami komponen, membuat model, melakukan pemeriksaan, hingga memastikan keterkaitan antarelemen. Pengalaman tersebut diharapkan membuat proses belajar tidak berhenti pada penguasaan fitur perangkat lunak, tetapi berkembang menjadi pemahaman terhadap alur kerja pemodelan bangunan yang digunakan dalam pekerjaan konstruksi.

Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan keterampilan siswa dalam menghasilkan pemodelan gedung bertingkat yang lebih akurat. Salah satu manfaat yang terlihat adalah kemampuan siswa dalam mendeteksi potensi bentrokan desain atau clash detection antara elemen arsitektur dan struktur sejak tahap awal perencanaan. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam proses kerja berbasis BIM karena kesalahan dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi masalah pada tahap berikutnya.

Penerapan pembelajaran ini juga memiliki keterkaitan dengan upaya mencapai SDGs. Dari sisi SDG 4, kegiatan mendukung penguatan mutu pendidikan vokasi melalui pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri modern. Pada SDG 9, penguasaan teknologi BIM menjadi bagian dari pengenalan teknologi digital yang berkembang dalam era Industri 4.0. Sementara itu, SDG 12 tercermin melalui proses perancangan yang lebih efisien karena potensi kesalahan gambar, pemborosan material, dan pengerjaan ulang atau rework dapat ditekan sejak tahap perencanaan.

Keberlanjutan program pembelajaran berbasis BIM diharapkan dapat menjadi fondasi bagi siswa DPIB dalam membangun kompetensi teknis yang lebih kuat. Pengalaman menggunakan perangkat lunak untuk pemodelan terintegrasi dapat menjadi bekal tambahan ketika siswa memasuki dunia kerja. Selain keterampilan teknis, siswa juga diharapkan memiliki pemahaman mengenai pentingnya ketelitian, koordinasi, dan efisiensi dalam proses perencanaan bangunan.

Melalui kegiatan tersebut, lulusan DPIB SMK Negeri 2 Depok diharapkan semakin siap menghadapi kebutuhan dunia industri sebagai Drafter atau Junior BIM Modeler profesional. Penguasaan teknologi, kemampuan bekerja dengan model bangunan yang terintegrasi, serta kesadaran terhadap efisiensi perancangan menjadi bekal untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Bupati Sanjaya Dorong Reforma Agraria Berbasis Data Presisi untuk Keadilan dan Kesejahteraan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *