WhatsApp Image 2026-07-07 at 12.19.55
Beranda » Blog » Analisis Kasus: Akhlak Berbicara Sopan Anak Usia Dini

Analisis Kasus: Akhlak Berbicara Sopan Anak Usia Dini

Penulis : Elvaretta Layla Sy’ra, Endang Wahyuningsih, Nurul Aulia Handayani, Zahra Fadilatul Aulia, Syarifan Nurjan, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Pendidikan karakter merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembentukan kepribadian anak sejak usia dini. Salah satu nilai karakter yang perlu ditanamkan adalah akhlak berbicara sopan kepada orang yang lebih tua. Dalam ajaran Islam, perilaku santun dalam berkomunikasi merupakan cerminan akhlak mulia yang harus dibiasakan sejak kecil. Rasulullah SAW bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi anak kecil” (HR. Tirmidzi). Hadis tersebut menunjukkan pentingnya sikap hormat kepada orang yang lebih tua, baik melalui tindakan maupun tutur kata.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak anak usia dini yang belum memahami etika berbicara dengan baik. Sebagian anak masih berbicara dengan nada tinggi, menggunakan kata-kata yang kurang sopan, memotong pembicaraan orang dewasa, atau belum terbiasa mengucapkan kata-kata santun seperti “tolong”, “terima kasih”, dan “maaf”. Kondisi ini menjadi perhatian karena kemampuan berbicara yang santun merupakan salah satu indikator perkembangan sosial dan moral anak.

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How) yang dipadukan dengan teknik wawancara mendalam dan observasi di BA Aisyiyah Ronowijayan.

What (Apa)

Aspek What bertujuan untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam membina akhlak berbicara sopan kepada peserta didik. Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan beberapa faktor yang menjadi hambatan, yaitu lingkungan keluarga yang kurang memberikan teladan dalam berbicara santun, karakter anak yang cenderung emosional, serta kebiasaan menggunakan telepon genggam tanpa pengawasan orang tua. Ketiga faktor tersebut berpengaruh terhadap perilaku komunikasi anak di sekolah.

Kiprah Muhammad Soleh Merawat Tradisi Keilmuan Islam di Indonesia

Who (Siapa)

Aspek Who bertujuan mengidentifikasi pihak yang memiliki peran penting dalam pembinaan akhlak berbicara sopan pada anak usia 5–6 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran yang sangat besar sebagai teladan. Guru tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga menunjukkan secara langsung bagaimana berbicara dengan sopan kepada orang lain. Anak-anak cenderung meniru perilaku guru sehingga keteladanan menjadi metode yang sangat efektif.

Where (Di Mana)

Penelitian dilaksanakan di BA Aisyiyah Ronowijayan, yang beralamat di Jalan Jagadan No. 13 B, Ronowijayan, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat yang relevan untuk mengkaji peran guru dalam membina akhlak berbicara sopan kepada anak usia 5–6 tahun melalui kegiatan pembelajaran sehari-hari.

When (Kapan)

Aspek When bertujuan mengetahui waktu guru melakukan evaluasi terhadap keberhasilan pembinaan akhlak berbicara sopan. Berdasarkan hasil wawancara, evaluasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, terutama melalui metode bermain peran (role play), kegiatan bercerita, serta pemberian umpan balik secara langsung kepada anak. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat mengamati perkembangan kemampuan berbicara santun pada setiap peserta didik.

Why (Mengapa)

Pembiasaan berbicara sopan sejak dini dinilai sangat penting karena masa anak usia dini merupakan golden age, yaitu periode ketika perkembangan otak berlangsung sangat pesat dan anak mudah menyerap berbagai kebiasaan dari lingkungan sekitarnya. Kebiasaan berbicara santun yang ditanamkan sejak kecil akan menjadi fondasi dalam pembentukan karakter, moral, dan akhlak anak di masa mendatang.

Selain itu, judul penelitian ini dipilih karena kemampuan berbicara sopan merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan sosial-emosional anak. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, anak diharapkan mampu berkomunikasi dengan penuh rasa hormat kepada orang yang lebih tua.

Kiprah Muhammad Soleh Membangun Wajah Baru Kajian Islam di Indonesia

How (Bagaimana)

Guru menerapkan berbagai strategi dalam mengajarkan akhlak berbicara sopan. Salah satu cara yang paling efektif adalah memberikan teladan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Guru selalu menggunakan kata-kata yang santun, seperti “tolong” saat meminta bantuan, “terima kasih” setelah menerima bantuan, dan “maaf” ketika melakukan kesalahan. Selain itu, guru membiasakan anak menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut dalam setiap aktivitas pembelajaran sehingga menjadi kebiasaan positif.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di BA Aisyiyah Ronowijayan, dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam membina akhlak berbicara sopan kepada orang yang lebih tua pada anak usia 5–6 tahun. Pembinaan dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan dalam aktivitas sehari-hari, metode bermain peran, serta kegiatan bercerita yang membantu anak memahami cara berkomunikasi secara santun.

Meskipun demikian, proses pembinaan masih menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga, karakter anak yang emosional, serta penggunaan gawai tanpa pengawasan yang memengaruhi perilaku berbicara anak. Oleh karena itu, keberhasilan pembentukan akhlak berbicara sopan tidak hanya bergantung pada peran guru di sekolah, tetapi juga memerlukan kerja sama yang erat antara sekolah dan orang tua. Dengan pembiasaan yang konsisten dan berkelanjutan, anak diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, menghormati orang yang lebih tua, serta terbiasa menggunakan bahasa yang santun dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *