Ponorogo, 12 Juli 2026 — Tidak semua pelukan lahir dari kebiasaan. Ada kalanya, sebuah permainan sederhana justru membuka ruang bagi seorang bapak untuk mengucapkan kalimat yang selama ini sulit terucap: “I love you.”
Momen hangat itulah yang mewarnai kegiatan BERGEMA (Berbagi Bergerak Bersama) yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional Pacitan Raya di Taman Jatimori, Ponorogo, Minggu (12/7). Sebanyak 70 peserta yang terdiri atas bapak, ibu, dan anak mengikuti kegiatan yang dirancang untuk memperkuat hubungan dalam keluarga melalui aktivitas bermain.
Acara diawali dengan Dance bersama Beebo dan Homi. Rasa malu peserta perlahan mencair. Tawa mulai terdengar, gerakan demi gerakan diikuti bersama, hingga seluruh peserta larut dalam suasana hangat bersama kedua maskot Bergema.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan beasiswa dan learning kit dan beasiswa dari The Human Safety Net Indonesia kepada 10 anak dari keluarga rentan, termasuk dua anak penyandang tunarungu dan tunawicara. Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka saat menerima bantuan yang diharapkan menjadi penyemangat untuk terus belajar.
Di antara para penerima beasiswa, ada seorang anak yang enggan maju ke depan. Ia memilih bersembunyi di belakang sang nenek. Tatapannya penuh keraguan dan ketakutan. Tak banyak yang tahu, di balik sikap pemalunya tersimpan cerita yang mengiris hati.
Saat Bapak Bermain, Anak Merasa Dicintai
Usai pembukaan, peserta dibagi ke dalam dua sesi. Para ibu mengikuti Moms Corner untuk belajar Game Based Learning, sementara para bapak mengikuti sesi “Aku dan Bapakku” bersama anak-anak mereka.
Di sesi ini, bapak dan anak diajak bermain bola, mengikuti permainan estafet air, ice breaking, dan berbagai aktivitas kolaboratif yang mengundang tawa. Tidak ada ceramah panjang. Yang hadir hanyalah permainan sederhana yang menghadirkan kebersamaan.
Puncak haru terjadi ketika salah seorang bapak diminta menyampaikan isi hatinya kepada sang anak.
Dengan suara bergetar, ia mengucapkan, “I love you.”
Ia juga mengakui bahwa selama ini terlalu sibuk bekerja dan belum banyak meluangkan waktu untuk menemani buah hatinya. Pengakuan itu membuat suasana mendadak hening. Beberapa bapak tampak menunduk, sementara yang lain mengusap mata.
Pada sesi refleksi, banyak bapak kemudian membuat komitmen sederhana: menyediakan waktu khusus untuk bermain bersama anak, meski hanya satu jam setiap akhir pekan.
Komitmen kecil itu sesungguhnya memiliki makna besar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan bapak dalam aktivitas bermain membantu meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan sosial, regulasi emosi, serta kesehatan mental anak. Bermain bersama juga memperkuat ikatan emosional yang menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak.
Ibu Belajar Menjadi Fasilitator Bermain
Sementara itu, para ibu mengikuti Moms Corner bersama fasilitator nasional Kasih Hani dan Ratna Palupi.
Melalui pendekatan Game Based Learning, para peserta belajar bagaimana menghadirkan permainan sederhana yang sarat pembelajaran di rumah. Suasana yang semula terlihat tenang berubah menjadi penuh gelak tawa ketika para ibu mulai mencoba berbagai permainan secara langsung.
Mereka tidak hanya memainkan permainan, tetapi juga belajar menjadi fasilitator bermain yang mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, membangun komunikasi, kerja sama, kreativitas, serta kedekatan dalam keluarga. Harapannya, permainan dapat menjadi budaya belajar di rumah dan menjadi jembatan yang menghubungkan orang tua dengan anak.
Senyum yang Akhirnya Muncul
Menjelang penutupan, seluruh keluarga menghias celengan bersama. Aktivitas sederhana itu menjadi simbol bahwa kebersamaan dibangun dari waktu-waktu kecil yang dilakukan bersama.
Berbagai testimoni mengalir.
Fatih, salah satu peserta, mengaku paling senang karena bisa bermain bersama bapaknya. Bahkan, sepulang dari acara ia sudah memiliki rencana sederhana.
“Nanti di rumah aku mau main layangan sama Bapak,” ujarnya sambil tersenyum.
Hal senada disampaikan Maghfiroh, salah satu peserta Moms Corner.
“Saya melihat hubungan bapak dan anak menjadi lebih dekat. Semoga kebiasaan bermain bersama ini terus berlanjut di rumah.”
Sementara Bambang, salah satu bapak peserta, mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga.
“Selama ini saya sering kurang sabar menghadapi anak. Hari ini saya belajar bahwa ternyata bermain bersama membuat saya lebih menikmati waktu bersama anak.”
Namun, momen yang paling membekas justru datang dari anak yang sejak awal tidak berani maju menerima beasiswa.
Menurut sang nenek, anak tersebut kerap menerima kata-kata kasar dari kedua orang tuanya sehingga tumbuh menjadi pribadi yang sangat pemalu dan takut berinteraksi dengan orang lain.
Menjelang acara usai, sebuah perubahan kecil terjadi.
Perlahan ia memberanikan diri mendekati Homi dan Beebo. Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman, lalu menghadiahkan sebuah senyum.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya senyum biasa.
Namun bagi keluarga dan seluruh panitia, senyum itu adalah tanda bahwa setiap anak membutuhkan ruang yang aman, penuh kasih, dan kehadiran orang dewasa yang mau bermain, mendengarkan, dan membersamai mereka.
Karena terkadang, perubahan besar dalam diri seorang anak dimulai dari permainan sederhana dan kehadiran seorang bapak.
Sampai jumpa di Bergema kota berikutnya!Menurut saya, versi ini terasa lebih konsisten karena menggunakan istilah “bapak” dari awal hingga akhir, selaras dengan nama sesi “Aku dan Bapakku”, sehingga alurnya lebih kuat dan identitas program lebih menonjol.
Ibu Profesional Pacitan Raya
IG : @ibuprofesionalpacitanraya


Komentar