WhatsApp Image 2026-09-01 at 18.55.07
Beranda » Blog » Polsri Bersama Bank Sampah Warga 27 Ilir siap Menjadi Percontohan untuk Pengelolaan Sampah Sungai

Polsri Bersama Bank Sampah Warga 27 Ilir siap Menjadi Percontohan untuk Pengelolaan Sampah Sungai

PALEMBANG — Politeknik Negeri Sriwijaya menjalin kerja sama dengan Bank Sampah Kenanga dan Bank Sampah Amanah untuk membangun rantai pengelolaan sampah sirkular di kawasan Anak Sungai Sekanak, Kelurahan 27 Ilir, Palembang. Nota kesepahaman ditandatangani pada Selasa, 1 September 2026, di Gedung Graha Pendidikan Polsri, dalam rangkaian Dies Natalis Polsri ke-44, oleh Direktur Polsri Ir. Irawan Rusnadi, M.T., Direktur Bank Sampah Kenanga Nyimas Eli Agustina, S.E., dan Direktur Bank Sampah Amanah Andi Wijaya, S.Si., M.Si.

Kondisi lingkungan yang menjadi latar kerja sama ini terekam pada sejumlah kajian sebelumnya. Pengukuran kualitas air Sungai Sekanak pada ruas 27 Ilir–Talang Semut dan 27 Ilir–28 Ilir mencatat kebutuhan oksigen biologis sebesar 9,51 miligram per liter dan kebutuhan oksigen kimiawi sebesar 41,36 miligram per liter pada kondisi surut, dengan indeks pencemaran yang bergerak pada rentang tercemar ringan. Kajian lain menunjukkan kondisi fisik anak sungai tersebut juga mengalami penurunan.

Program Living Lab Sekanak Connect menyusun tanggapan atas kondisi tersebut dalam satu rangkaian yang terhubung, bukan sebagai kegiatan yang berjalan sendiri-sendiri. Program ini merupakan bagian dari Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) yang diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan dukungan pendanaan dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

Rangkaian program dimulai dari pemantauan, berlanjut ke pemilahan dan penyetoran, dan berakhir pada pemanfaatan residu. Pendekatan tersebut dirancang untuk menghubungkan teknologi dengan aktivitas warga sehingga pengelolaan sampah dapat berlangsung secara berkelanjutan di tingkat kawasan.

Tahap pemantauan ditangani perangkat detektor pembuangan sampah yang memadukan kamera tepi dengan model deteksi kecerdasan buatan. Ketika kejadian pembuangan terkonfirmasi, sistem mencatat waktu dan koordinat lokasi, lalu mengirimkannya ke papan pemantauan bersama dan kepada tim pengelola lingkungan setempat. Citra yang terekam hanya disimpan selama rentang waktu yang dibutuhkan untuk verifikasi kejadian, mengikuti aturan minimalisasi data yang disepakati bersama pihak kelurahan.

BRI Dorong Pertumbuhan UMKM Probolinggo melalui Penyaluran KUR

Tahap berikutnya berjalan di kedua bank sampah. Warga menyetorkan sampah non-organik yang sudah dipilah, lalu setoran tersebut ditimbang dan dicatat melalui aplikasi bank sampah digital. Nilai setoran dikonversi menjadi poin tabungan sesuai tarif yang berlaku. Mekanisme ini memberi nilai ekonomi pada material yang sebelumnya berakhir di badan air.

Ketiga tahapan tersebut menulis datanya ke satu papan pemantauan yang digunakan bersama oleh tim pengelola lingkungan, kantor kelurahan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Palembang.

Target lingkungan yang ditetapkan pada fase awal meliputi penurunan pembuangan sampah liar sebesar 50 hingga 60 persen pada titik rawan dan peningkatan pemilahan sampah rumah tangga sekurang-kurangnya 50 persen dari kondisi awal. Pada jangka menengah, program mengarah pada pengurangan sampah terapung dan pembuangan malam hari, replikasi model ke kelurahan lain, serta tumbuhnya ekonomi sirkular yang menopang pendapatan warga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *