Radar Waktu, Opini – Kalo di ingat-ingat, kita tuh dalam sehari bisa ngapain aja sih di internet? Bangun tidur pasti yang langsung dibuka media sosial, siang harinya belanja di marketplace, sore bisa aja pesan makanan lewat aplikasi, terus malemnya lanjut nonton serial favorit di Netflix atau biasanya dengerin Spotify sebelum tidur. Jadi hampir semua aktivitas sekarang bisa dilakuin secara online.
Perkembangan teknologi sekarang emang bikin hidup jadi jauh lebih praktis. Mau beli kebutuhan sehari-hari tidak perlu keluar rumah lagi, mau belajar tinggal buka Youtube, bahkan mau cari penghasilan tambahan pun sekarang bisa lewat media sosial. Jadi udah tidak heran lagi kalau kehidupan kita sekarang tuh rasanya tidak bisa lepas dari dunia digital ya.
Tapi pernah kepikiran tidak sih kalian, kalau dibalik semua aktivitas online yang kita lakuin itu ternyata ada pajaknya? Banyak orang mengira pajak tuh cuma urusan orang yang bekerja kantoran, punya usaha, atau beli barang-barang. Padahal, tanpa kita sadari ketika kita belanja online, langganan aplikasi sampe nerima penghasilan dari media sosial itu juga semuanya berkaitan loh sama pajak.
Nah, lewat artikel ini kita bakal ngebahas gimana sih pajak “ikut hadir” di tengah tengah aktivitas digital kita sehari-hari. Siapa tau setelah kalian membaca ini, kita jadi paham kalau ternyata pajak itu lebih dekat dengan kehidupan kita daripada yang kita kira.
Belanja Online? Ternyata Ada Pajaknya Juga
Sekarang siapa sih yang tidak pernah belanja online? Terutama anak gen Z, mau beli skincare, baju, alat elektronik, bahkan makanan, semuanya bisa tinggal buka Shopee, Tokopedia, atau marketplace lainnya. Apalagi kalo pas ada promo kayak tanggal cantik atau gratis ongkir, pasti rasanya susah deh buat tidak checkout.
Nah, meskipun kita belinya lewat HP dan barangnya bisa langsung datang diantar sama kurir, bukan berarti transaksi yang kita lakuin itu bebas pajak. Jadi barang yang kita beli tetap dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), sama aja seperti kita beli barang di toko biasa.
Bedanya, ketika kita sebagai pembeli itu biasanya tidak pelu repot-repot buat meghitung pajaknya. Soalnya, jumlah PPN itu sudah otomatis masuk ke total pembayaran. Jadi harga yang tertera saat kalian checkout itu biasanya sudah mencangkup pajak yang memang harus dibayarkan.
Mungkin memang nominalnya terasanya kecil kalau kita belanja cuma sekali atau dua kali, tapi coba bayangin deh kalau ada jutaan orang di Indonesia yang belanja online setiap harinya itu berapa banyak PPN yang diterima sama Negara. Nah dari situlah penerimaan pajak bisa terkumpul dan nantinya bakal digunakan untuk membiayai berbagai kepentingan Negara.
Jadi, setiap kali kita klik tombol “checkout” dan ngelakuin pembayaran, tanpa kita sadarin kita juga sedang ikut berkontribusi untuk Negara lewat pajak loh.
Langganan Neflix atau Spotify juga Kena Pajak
Jadi tidak hanya belanja barang aja, sekarang banyak orang yang mengeluarkan uang buat nikmatin layanan digital. Contohnya seperti langganan Netflix buat nonton, film, Spotify buat dengerin lagi, Google Drive buat nyimpen file, atau beli aplikasi premium yang bisa bikin pekerjaan lebih mudah dan cepat selesai.
Nah kalau kalian pernah lihat rincian tagihan dari langganan, munkin kamu bakalan sadar kalo ada pajak tambahan di dalamnya yaitu dikenakan PPN.
Kenapa sih harus dikenai pajak juga? Alasannya sederhana ya, perusahaan digital juga harus mendapatkan keuntungan dari penggunanya. Jadi, supada adil pelaku usaha yang berjualan di Indonesia secara langsung, layanan digital juga dikenakan aturan perpajakan ya sobat.
Dengan begitu bisnis online dan bisnis konvensional juga sama-sama memiliki kewajiban yang setara untuk membayar pajak. Jadi, bukan karena semua serba digital lalu bisa otomatis bebas pajak.
Jadi Content Creator? Jangan lupa Soal Pajak
Akhir-akhir ini profesi Content Creator semakin popular, banyak orang yang awalanya Cuma sekedar hobi bikin video ternyata sekarang bisa mengandalkan jadi penghasilan bulanan.
Sumber penghasilannya juga ada macam-macam. Ada yang berasal dari iklan, endorsement, affiliate, live streaming, bahkan sampai kerja sama dengan brand-brand, dan tidak sedikit Content Creator yang penghasilannya bisa melebihi pekerja kantoran.
Nah, karena sudah bisa menghasilakn uang, Content Creator juga punya kewajiban yang sama untuk membayar pajak, sama dengan profesi lainnya.
Tetapi, masih banyak yang mengira kalo penghasilan dari internet itu tidak perlu dikenai pajak. Padahal, selama menghasilkan uang, penghasilan itu tetap termasuk dari objek pajak.
Oleh Karena itu, sangat penting untuk para Content Creator untuk memahami aturan perpajakan agar para Content Creator bisa berkarya dengan lebih tenang dan menjalankan usahanya secara lebih professional.
Pajak Digital: Tantangan Sekaligus Manfaatnya
Perkembangan digital sekarang juga membawa tantangan tersendiri, terutama dalam hal perpajakan. Jumlah transaksi yang terus bertambah membuat pengawasannya tidak mudah, apalagi masih banyak yang mengira kalo aktivitas digital ini tidak ada kaitannya dengan pajak.
Padahal, memahami pajak digital itu penting kawan. Bukan supaya kita taku buat membayar pajak tapi supaya kita tahu hak dan kewajiban kita sebagai warga Negara.
Di sisi lain, pajak yang dipungut dari kegiatan digital juga akan kembali ke masyarakat. Uangnya akan digunakan untuk membiayai pembangunan, mulai dari jalan, sekolah, rumah sakit, hingga layanan public lainnya.
Jadi walaupun manfaatntya tidak langsung terasa setelah kita check out atau membayar sesuatu dari internet, pajak itu tetap punya peran besar dalam mendukung pembangunan di suatu Negara yang akan dinikmati bersama.
Kesimpulan
Di era digital seperti sekarang ini, pajak sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, mulai dari belanja online hingga mendapatkan penghasilan dari media social. Dengan kita paham cara kerjanya, kita tidak hanya memenuhi kewajiban sebagai wajib pajak tetapi juga kita ikut berkontribusi pada pembangunan dan layanan public yang mana manfaatnya akan kembali dirasakan oleh masyarakat.
Pada akhirnya, dibalik setiap transaksi digital, ada peran pajak yang ikut mendukung kemajuan Indonesia.
Penulis: Hanum Dwi Salsabiella, Mahasiswi Universitas Islam Syekh Yusuf.


Komentar