Penulis : Destria Putri Widyaningrum, Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Radar Waktu, Opini – Rp2,86 triliun dan Rp27,9 miliar. Dua angka ini muncul dalam laporan kinerja PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) pada 2025, tetapi memiliki makna berbeda. Dalam publikasi resminya pada 9 Juli 2026, Agrinas menjelaskan bahwa Rp2,86 triliun merupakan surplus operasional dari pengelolaan aset perkebunan negara, bukan laba perseroan. Sementara itu, Rp27,9 miliar merupakan laba bersih dari bisnis jasa konsultasi konstruksi perusahaan.
Keduanya tidak dapat dibandingkan secara langsung. Meski begitu, perbedaannya membuka persoalan yang lebih besar: keberhasilan mengelola aset negara tidak cukup dinilai dari angka keuntungan, tetapi juga dari nilai ekonomi yang benar-benar berhasil diciptakan.
Skala mandat Agrinas Palma terus membesar. Menurut publikasi perusahaan, luas areal yang dikelola mencapai sekitar 1,7 juta hektare sepanjang 2025 dan meningkat menjadi 4,11 juta hektare seiring bertambahnya penugasan. Dari jumlah tersebut, sekitar 730 ribu hektare merupakan areal tanaman kelapa sawit. Skala pengelolaan ini menuntut lebih dari sekadar kemampuan menghasilkan keuntungan. Produktivitas, efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan juga harus menjadi ukuran keberhasilan.
Laba tetap penting karena menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Akan tetapi, angka laba belum cukup menjelaskan apakah aset telah dimanfaatkan secara produktif, biaya operasional semakin efisien, atau manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Terlebih, pengelolaan aset negara dan kegiatan bisnis korporasi memiliki fungsi berbeda sehingga membutuhkan ukuran kinerja yang sesuai.
Kinerja Agrinas Palma pada semester I 2026 menunjukkan perkembangan signifikan. Dalam publikasi resmi pada 4 Agustus 2026, perusahaan melaporkan penjualan sebesar Rp1,82 triliun, meningkat 184 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih mencapai Rp890 miliar atau tumbuh 150 persen secara tahunan. Capaian ini menunjukkan perbaikan kinerja finansial yang patut dicatat.
Direktur Utama Agrinas Palma, Mohammad Abdul Ghani, mengaitkan perkembangan perusahaan dengan transformasi yang dijalankan bersama dukungan Danantara. Dalam publikasi resmi tersebut, ia menyatakan, “Berbagai pembenahan yang kami lakukan mulai menunjukkan hasil nyata dan menjadi modal penting bagi Perseroan untuk menjalankan penugasan strategis pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan dan energi nasional.”
Pernyataan ini mencerminkan optimisme manajemen. Meski demikian, keberhasilan transformasi tetap perlu dibuktikan melalui hasil yang terukur. Jika efisiensi menjadi pendorong pertumbuhan, perbaikannya perlu terlihat pada biaya operasional. Jika produktivitas meningkat, hasil pengelolaan lahan perlu menunjukkan perkembangan nyata. Jika tata kelola diperkuat, transparansi dan akuntabilitas juga harus semakin terlihat.
Di sinilah pertumbuhan laba perlu ditempatkan secara proporsional. Kenaikan laba merupakan kabar baik, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan bahwa nilai perusahaan meningkat secara keberlanjutan. Penilaian yang lebih menyeluruh perlu mempertimbangkan sumber pendapatan, produktivitas aset, efisiensi operasional, serta kemampuan mempertahankan kinerja dalam jangka panjang.
Standar tersebut bukan bentuk penyangkalan terhadap capaian Agrinas Palma. Sebaliknya, semakin besar mandat yang diberikan negara, semakin luas pula ukuran keberhasilan yang dibutuhkan. Selain laba, produktivitas lahan, keberlanjutan pengelolaan, dan manfaat ekonomi bagi negara serta masyarakat perlu mendapat perhatian.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah laba Rp27,9 miliar tergolong kecil atau laba Rp890 miliar tergolong besar. Persoalannya adalah apakah angka-angka tersebut cukup untuk menggambarkan nilai yang benar-benar diciptakan perusahaan.
Bagi Agrinas Palma, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mencetak laba yang terus meningkat, melainkan membuktikan bahwa jutaan hektare aset yang dipercayakan negara mampu menghasilkan manfaat ekonomi secara produktif, berkelanjutan, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, laba menunjukkan keuntungan yang berhasil dicatat. Namun, nilai perusahaan yang sesungguhnya terlihat dari manfaat yang berhasil diciptakan melalui sumber daya yang dikelolanya. Ketika sumber daya itu merupakan aset negara, pembuktiannya bukan sekadar urusan bisnis, melainkan bagian dari pertanggungjawaban kepada publik.
Sumber Data dan Kutipan:
PT Agrinas Palma Nusantara (Persero). (2026, 9 Juli). PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Bukukan Surplus Operasional Pengelolaan Aset Perkebunan Rp2,86 Triliun pada 2025.
PT Agrinas Nusantara (Persero). (2026, 4 Agustus). Kinerja Semester I 2026 Tumbuh Positif, Agrinas Palma Percepat Transformasi Menuju Swasembada Pangan dan Energi.


Komentar